Selasa, 27 Desember 2016

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan (Konsumsi Oksigen Pada Hewan)

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN
KONSUMSI OKSIGEN PADA HEWAN
Di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah praktikum fisiologi hewan yang di ampu oleh Siti Nurkamilah M.Pd.
Kelompok 5
Mia Ratnasari              (14541053)
Siti Solihah                  (14541055)
Sofi Yulianti               (14541056)
Hasni safitri                 (14542001)
Muhamad Hasanudin (14542004)
Ajeng Nur Aropah      (14542000)
Neng Ulpah Hasanah  (14542039)


LABORATORIUM PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) GARUT
2016

I.                   Judul Praktikum
Konsumsi oksigen pada hewan
II.                Tujuan
1.      Untuk mengukur banyaknya konsumsi oksigen pada belalang.
2.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi di dalam resfirasi
3.      Untuk mengetahui hubungan antara keceptan resfirasi pada hewan dengan kecepatan metabolismenya.
III.             Landasan Teori
Resfirasi adalah proses penyederhanaan senyawa kimia dari zat makanan untuk mendapatkan energy. Pernafasan dapat di artikan sebgai proses yang dilakukan organisme untuk menghasilkan energy dari hasil metabolisme. Ada dua macam pernafasan yaitu pernafasan ekternal (luar) dan pernafasan internal (dalam). Pernafsan luar meliputi proses pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 dan uap air antara organisme dan lingkungannya. Pernafasan internal disebut juga pernapasan seluer karena pernapsan ini terjadi di dalam sel, yaitu di dalam sitoplasmadan mitokondria. Pernafasan seluler melalui tiga tahap yaitu glikolisis, siklus krebs, dan transfor electron.
Proses resfirasi tidak lepas dari adanya proses metabolisme. Metabolisme merupakan aktivitas hidup yang selalu terjadi pada setiap sel hidup. Metaboisme dapat kita golongkan menjadi dua yakni proses penyusunan yag disebut anabolisme dan katabolisme.
Insekta ( serangga) bernapas dengan menggunakan tabung udara yang disebut trakea.  Udara keluar masuk ke pembluh trakea melalui lubang-lubang kecil pada eksoskeleton yang disebut dengan stigma atau spirakel. Stigma dilengkapi dengan bulu-bulu untuk menyaring debu, serta dapat terbuka dan tertutup karena adanya katup-katup untuk menyaring debu, serta dapat terbuka dan tertutup Karen adanya katup-katup yang geraknya di atur oleh otot. Tabung trakea bercabang-cabang keseluruh tubuh dengan ukuran yang semakin halus. Cabang terkecil berujung buntu dan berukuran lebih kurang 0,1 milimikron. Cabang ini disebut trakeolus berisi udara serta cairan. Oksisgen larut dalam cairan , kemudian berdifusi kedalam sel-sel di dekatnya.
Jadi pada insekta oksigen tidak di edarkan melalui darah, tetapi melalui trakea. Pada belalang keluar masuknya udara ke dalam trakea diatur dengan kontraksi otot perut. Ketika otot kendur , volume perut normal sehingga udara masuk. Ketika otot berkontraksi volume perut mengecil sehingga udara keluar.
Udara masuk melalui 4 pasang stigma depan dan keluar melalui 6 pasang stigma abdomen. Dengan demikian udara miskin O2 tidak akan bercampur dengan udara segar (kaya O2) yag masuk.
Reaksi kimia proses resfirasi :

C6H12O6 + 6O2                                      6CO2 + 6H2O + energy

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi di dalam proses resfirasi pada hewan, antara lain :
1.      Faktor Dalam
a.       Aktivitas tubuh
Semua makhluk hidup jika aktivitasnya banyak pasti membutuhkan banyak oksigen juga sama seperti halnya pada serangga
b.      Kondisi fisik
Jika menguji pernapasan pada hewan yang lebih besar pasti membutuhkan lebih banyak laju mengkonsumsi oksigen.
c.       Jenis kelamin
Belalang atau jangkrik  betina dan belalang jantan memiliki kecepatan respirasi yang berbeda. Betina lebih banyak melakukan respirasi karena betina memiliki sistem hormonal yang lebih kompleks dibanding jantan.
d.      Barat badan
Organisme yang berat badannya lebih berat,lebih banyak respirasi yang dibutuhkan karena jumlah sel yang dimiliki lebih banyak dibanding organisme yang lebih ringan berat tubuhnya.

2.      Faktor Luar
a.       Temperature
Semakin tinggi suhunya, semakin banyak respirasi yang dibutuhkan karena H2O yang dihasilkan oleh respirasi berguna untuk menyesuaikan tubuh dengan menurunkan suhu.
b.      Kadar O2 di dalam udara
Kadar O2 akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju respirasi karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk berespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara.
c.       Konsentrasi CO2 dalam udara
d.      Kelembapan
Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa system trachea yang berfungsi untuk mengengkut dan mngedarkan O2 ke seluruh tubuh serta mengangkut dan mengeluarkan CO2 dari tubuh. Trachea memanjang dan bercabang-cabang menjadi saluran hawa halus yang masuk ke seluruh jaringan tubuh oleh karena itu, pengangkutan O2 dan CO2 dalam system ini tidak membutuhkan bantuan sitem transportasi atau darah.
Udara masuk dan keluar melalui stigma, yaitu lubang kecil yang terdapat di kanan-kiri tubuhnya. Selanjutnya dari stigama, udara masuk ke pembuluh trachea yang memanjang dan sebagian ke kantung hawa. Pada serangga bertubuh besar terjadinya pengeluaran gas sisa pernafasan terjadi karena adanya pengaruh kontraksi otot-otot tubuh yang bergerak secara teratur.
Metode Winkler merupakan suatu cara untuk menentukan banyaknya oksigen yang terlarut di dalam air. Dalam metode ini, kadar Oksigen dalam air ditentukan dengan cara titrasi. Titrasi merupakan penambahan suatu larutan yang telah diketahui konsentrasinya (larutan standar) ke dalam larutan lain yang tidak diketahui konsentrasinya secara bertahap sampai terjadi kesetimbangan. Dengan metode Wingkler, kita dapat mengetahui banyaknya oksigen yang dikonsumsi oleh hewan air seperti ikan.
Respirometer Scholander digunakan untuk mengukur laju konsumsi oksigen hewan-hewan seperti katak atau mencit. Alat ini terdiri atas syringe, manometer,tabung spesimen, dan tabung kontrol.
Pada pengujian respirometer juga melibatkan penggunaan kristal KOH atau NaOH yang berfungsi untuk mengikat CO2 hasil sampingan respirasi. Kegunaan pengikatan gas karbon dioksida tersebut adalah agar terjadinya penyusutan udara didalam tabung tertutup tersebut. Adapun reaksi yang terjadi antara KOH dengan CO2 adalah sebagai berikut:
KOH + CO2 → K2CO3 + H2O
Sedangkan, reaksi yang terjadi antara NaOH dengan CO2 adalah sebagai berikut :
NaOH + CO2 → Na2CO3  + H2O

IV.             Alat dan bahan

No
Nama Alat  dan bahan
Gambar
         1. 
Respirometer sederhana


         2. 
Hewan percobaan (belalang)


         3.
Timbangan



         4.
Kristal KOH


         5.
Kapas


      6. 
Cairan Warna  (Metilen Blue)


         7. 
Vaselin



V.                Cara Kerja
1.      Hewab percobaan di timbang dengan menggunaan timbangan
2.      Kemudian respirometer sederhna yang telah disimpan diisi dengan Kristal KOH yang telah di bungkus dengan kapas, masukan hewan percobaan tutup penutup respirometer dengan menggunakan vaselin agar tidak ada udara yang masuk, beri metilen blue pada pipa skala.
3.      Amati pergerakan metilen blue pada pipa skala kemudian hitung pergerakannya sampai waktu yang telah ditentukan (setiap 5 menit dan pengulangan sebanyak dua kali)
4.      Hitung konsumsi oksigen pada hewan percobaan yang lain. Kemudian bandingkan konsumsi oksigen dari setiap hewan yang diamati.
VI.             Hasil Pengamatan
Data di bawah ini merupakan hasil pengamatan konsumsi oksigen dengan skala kedudukan metilen blue pada serangga (jangkrik) yang diamati
1.      Perbandingan konsumsi oksigen berdasarkan jenis kelamin
a.       Serangga (Jangkrik) Betina
Berat tabung awal = 27,58
Berat tabung + berat serangga = 28,07
Berat serangga = Berat akhir – Berat awal
                        = 27,58-28,07
                        = 0,49
b.      Serangga (Jangkrik) Jantan
Berat tabung awal = 27,58
Berat tabung + berat serangga = 26,94
Berat serangga = Berat akhir – Berat awal
                        = 27,58-26,94
                        = 0,64

Jenis Kelamin
Volume Konsumsi oksigen (ML)
Rata- rata
5 menit (1)
5 menit (2)
5 menit (3)
Betina
 0,08 mL
 0,07 mL
 0,095 mL
 0,08 mL
Jantan
 0,02 mL
 0,02 mL
 0,04 mL
 0,03 mL

ü  Konsumsi O2 Jangkrik Betina
Konsumsi O2       = Pergerakan methylen blue/Bentuk/Waktu
                                         = 0,08 mL/0,49 gr/5 menit
                                         = 0,03 ml/gr/menit
Maka pada jangkrik betina konsumsi O2 dalam waktu 1 menit dengan berat 1 gram adalah sebanyak  0,03 mL

ü  Konsumsi O2 Jangkrik Jantan
Konsumsi O2       = Pergerakan methylen blue/Bentuk/Waktu
                                         = 0,03 mL/0,49 mL/5 menit
                                         = 0,009 mL/gr/menit
Maka pada jangkrik betina konsumsi O2 dalam waktu 1 menit dengan berat 1 gram adalah sebanyak 0,01 mL

2.      Perbandingan konsumsi oksigen berdasarkan Berat Badan yang Berbeda
c.       Serangga (Jangkrik) Besar
Berat tabung awal = 27,58
Berat tabung + berat serangga = 27,15
Berat serangga = Berat akhir – Berat awal
                        =  27,58-27,15
                        = 0,43
d.      Serangga (Jangkrik) kecil 
Berat tabung awal = 27,58 gr
Berat tabung + berat serangga = 26,58gr
Berat serangga = Berat akhir – Berat awal
                        = 27,58 -26,58
                        = 1 gr

Berat Badan
Volume Konsumsi oksigen (ML)
Rata- rata
5 menit (1)
5 menit (2)
5 menit (3)
Besar (gr)
 0,04 mL
0,015 mL 
 0,01 mL
 0,02 mL
Kecil (gr)
 0,04 mL
 0,025 mL
 0,05 mL
 0,04 mL

ü  Konsumsi O2 Jangkrik Betina
Konsumsi O2       = Pergerakan methylen blue/Bentuk/Waktu
                                         = 0,02 mL/0,43 gr/5
                                         = 0,009 mL
Maka pada jangkrik betina konsumsi O2 dalam waktu 1 menit dengan berat 1 gram adalah sebanyak 0,009 mL

ü  Konsumsi O2 Jangkrik Jantan
Konsumsi O2       = Pergerakan methylen blue/Bentuk/Waktu
                                         = 0,04 mL/1 gr/5
                                         = 0,008 mL
Maka pada jangkrik betina konsumsi O2 dalam waktu 1 menit dengan berat 1 gram adalah sebanyak 0,008 mL

VII.          Pembahasan
Pada percobaan kali ini membahas tentang konsumsi oksigen pada hewan atau system respirasi pada hewan. Hewan yang digunakan adalah serangga (jangkrik)  dengan membandingkan dua macam, yang pertama sesuai dengan Jenis kelamin yang kedua sesuai dengan Berat badan.
Penggunaan KOH yang berfungsi sebagai pengikat CO2 agar organisme (jangkrik) tidak menghirup CO2 yang dikeluarkan setelah jangkrik bernapas dan pergerakan larutan metilen blue  benar-benar hanya disebabkan oleh konsumsi oksigen. KOH dapat mengikat CO2 karena memiliki rumus reaksi:
KOH + CO2 → K2CO3 + H2O
Larutan metilen blue berfungsi sebagai indikator oksigen yang dihirup oleh organisme (jangkrik) pada repirometer sederhana. Larutan eosin selama percobaan selalu bergerak mendekati botol respirometer sederhana karena organisme dalam percobaan (jangkrik) dalam respirometer dapat menghirup udara O2 melalui pipa sederhana sehingga larutan metilen blue yang berwarna dapat bergerak.
Alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan pernapasan adalah respirometer. Respirometer adalah alat yang dapat digunakan untuk mengukur kecepatan pernapasan beberapa hewan kecil seperti serangga. Prinsip kerja respirometer adalah alat ini bekerja atas suatu prinsip bahwa dalam pernafasan ada oksigen yang digunakan oleh organisme ada karbondioksida yang dikeluarkan olehnya. Jika organiseme yang bernapas itu disimpan dalam ruang tertutup dan karbondioksida yang dikeluarkan oleh organisme dalam ruang tertutup itu diikat, maka penyusutan udara akan terjadi. Kecepatan penyusutan udara dalam ruang itu dapat di amati pada pipa kapiler berskala.
Berdasarkan tabel dan perhitungan di atas pada data pengamatan , dapat kita ketahui bahwa jumlah oksigen yang di konsumsi oleh jangkrik betina lebih besar dari pada jumlah oksigen yang di konsumsi oleh jangkrik jantan. Dengan jumlah rata-rata konsumsi oksigen pada jangkrik jantan adalah 0,03 mL dan pada jangkrik betina adalah 0,01 ml hal tersebut dikarenakan  betina memiliki sistem hormonal yang lebih kompleks dibanding jantan.
Dan dapat kita ketahui bahwa jumlah oksigen yang di konsumsi oleh jangkrik besar lebih besar dari pada jumlah oksigen yang di konsumsi oleh jangkrik kecil. Dengan jumlah rata-rata konsumsi oksigen pada jangkrik besar adalah 0,009 mL dan pada jangkrik kecil adalah 0,008 ml . hal itu di karenakan jumlah sel yang dimiliki lebih banyak dibanding jangkrik yang lebih ringan berat tubuhnya.
VIII.       Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan pada percobaan mengenai konsumsi oksigen pada hewan ( jangkrik) dapat disimpulkan bahwa pada percobaan 1, jangkrik Betina lebih banyak membutuhkan oksigen (konsumsi oksigen) dibandingkan jangkrik jantan . Dengan jumlah rata-rata konsumsi oksigen pada jangkrik betina  adalah  mL dan pada jangkrik jantan  adalah  ml  Sedangkan pada percobaan 2 jangkrik berukuran besar lebih banyak membutuhkan oksigen (konsumsi oksigen) dibandingkan jangkrik berukuran kecil. Dengan jumlah rata-rata konsumsi oksigen pada jangkrik besar adalah  mL dan pada jangkrik kecil adalah ml. Hal ini disebabkan karena adanya faktor yang mempengaruhi respirasi, seperti faktor usia, kondisi tubuh, jenis kelamin, berat badan, dan tekanan darah pada serangga.



DAFTAR PUSTAKA
Isnaeni,wiwi.2013. Fisiologi Hewan. Edisi ke Tujuh. Yogyakarta:PT.Kanisius
Nurjaman, Sopyan.2010. Modul Praktikum Fisiologi Hewan. Garut: Sekolah Tinggi
       Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP).
Sadikin, Mohammad, dkk. 2001. Biokimia Eksperimen Laboratorium. Widya Medika,
       Jakarta
Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Prees, Jakarta.


LAMPIRAN